Tapro, Asuransi Unit Link Allianz : Mahalnya Harga Penundaan

Mahalnya Harga Sebuah Penundaan !

manajemen-waktu

Ketika kami sebagai Agen Asuransi, menawarkan Produk Tapro Unit Link dari Allianz, terus terang  tidak selalu mulus.

Karena bagaimana sekalipun Calon Nasabah Harus memikirkan berbagai aspek terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk ambil polis tapto, karena menabung di Tapro sifatnya Jangka Panjang biasanya 10 tahun atau paling tidak lima tahun jika sifatnya mencicil.

Biasanya jawaban mereka, nanti kami pikir-pikir dulu, kami rudingkan dulu sama keluarga, dan lain-lain

Namun apapun alasannya di Asuransi  setiap Penundaan ada harga yang harus dibayar dan mahal sekali harganya.

Yang lebih luar biasa, harga itu tidak hanya dalam bentuk Rupiah berupa Tambahan Premi yang harus dibayar tiap periode pembayaran.

Hal yang paling mahal itu adalah Kehilangan Kesempatan.

Beda persyaratan Beli Polis Asuransi. Beda persyaratan  Beli Asset (sejenis mobil, tanah, rumah atau asset lainnya).

Jika anda memiliki Uang,  anda bisa beli mobil, tanah, rumah dan asset lainnya meski disaat anda sakit. Karena Kesehatan bukanlah salah satu syarat membeli Mobil, rumah dan Tanah.

Tetapi Berapa Banyakpun Uang yang anda miliki tidak bisa membeli Polis  Asuransi, jika anda sudah Sakit.

Jangankan Sakit !, dalam pengertian yang kita pahami, Kegemukan (Obesitas/kelebihan berat badan) saja pun tidak diterima Asuransi.

Berikut Pengalaman saya tentang Masalah ini,

Meninggal Sebelum Sempat Beli Polis Asuransi.Pada suatu Kesempatan, saya pernah presentase terhadap seorang ibu, pekerjaannya Pedagang di Salah Satu Pajak di Daerah Deli Serdang, usia sekitar 40 tahunan.

Proposal sudah di jelaskan dengan premi bulanan Rp.500.000/bulan (beli sesuai kemampuan, bukan sesuai kebutuhan),  dan katanya sudah mengerti, dan sudah tanda tangan. Fotocopy KTP dan Buku Rekening Bank untuk Autodebet sudah diberikan.

Namun ketika mau isi SPAJ, sang ibu menunda, bulan depan saja datangnya, karena  bulan ini, lagi banyak pengeluaran untuk anak-anak yang lagi sekolah

Sayapun okey saja, supaya tidak terkesan memaksa (meski keyakinan saya, sebenarnya ibu ini mampu mengusahakan Rp.500.000,-).

Susuai janji, 1 bulan kemudian, saya datang lagi follow-up. Ternyata Kiosnya tutup, si Ibu tidak ada, saya pun tanya tetangganya, Rupanya si Ibu Calon Nasabah telah Meninggal Dunia 2 hari yang lalu.

Ketika saya tanya bagaimana kejadiannya ?.  Cuma 3 hari demam. kata tetangganya.

Saya sebagai Agen Asuransi pun merasa sedih, dan tidak bisa berkata apa, sebab andaikata saja mau berusaha yang Rp.500.000,- , seharusnya sudah bisa Klaim Asuransi Meninggalnya, sebagi bekal bagi anak-anaknya untuk meneruskan pendidikan dan kehidupannya.

Inilah mahalnya sebuah penundaan yang tidak bisa dinilai dengan rupiah. Kehilangan Kesempatan.

 Menunda Dengan Alasan;  Nanti akan saya hubungi, sebab saya akan Bicarakan dulu sama Istri.Di Kesempatan lain, saya juga pernah presentasekan mengenai Tapro Asuransi Unit Link Allianz ini,  kepada teman saya, seorang Bapak dengan Usia sekitar 35 Tahun, pekerjaan wiraswasta di daerah Belawan.

Pada saat itu, istrinya tidak sedang bersmanya dijelaskan. Setelah ditanyakan apakah sudah mengerti manfaatnya, jawabannya sudah. Apakah masih ada yang perlu ditanyakan jawabannya tidak.

Pembicaraan kami seperti ini:

Saya  : sejauh ini apakah sudah faham akan manfaat Tapro ?

Teman : Sudah

Saya : Apakah ada pertanyaan lain nya, yg masih butuh penjelasan ?

Teman : Tidak lagi

Saya : Maaf, apakah anda hari ini sehat ?, sebab seperti yang anda tau bahwa syarat jadi buka rekening tapro itu harus sehat,

Teman : Sehat.

Saya : Bolehkah kita teruskan ke tahap wawancara ?

Teman : Saya kira begini sajalah, saya akan bicarakan dulu sama istri saya selanjutnya nanti akan hubungi anda.

Saya : Apakah menurut anda Program ini bagus.

Teman : Bagus sih, bagus, tapi saya tanyakan istri saya dulu, nanti kami hubungi.

Saya : Biasanya, Anda selaku pimpinan keluarga, apakah anda harus selalu bertanya dulu kepada istri,  untuk memutuskan segala sesuatu yang baik bagi keluarga. Adakah batas toleransi anda dalam hal mengambil keputusan dalam keluarga ? apalagi yang sifatnya baik.

Teman : Pokoknya nantilah saya hubungi anda, saya bicarakan dulu sama istri, supaya sama-sama enak.

Saya : Bagaimana jika terjadi kondisi terburuk,  istri anda tidak setuju, karena tidak paham akan manfaat Tapro ini. Apakah anda mau menggantungkan nasip keluarga anda di atas ketidak tauan istri anda ? atau apakah anda membuthkan saya membantu Anda menjelaskan ke Istri anda ?

Teman : Tidak Usah. Biar saja saya yang menjelaskan nanti. Pokoknya nanti saya hubungi lagi lah.

Saya : Okeylah kalau begitu, Saya tunggu khabar dari anda. Tapi perlu saya ingatkan, semakin lama anda menunggu, semakin kecil kesempatan anda, dan semakin besar premi yang anda bayarkan. Disini berlaku Time Is Money.

Demikian pembicaraan kami akhiri.

Hari, berganti  minggu,  minggu berganti bulan, bulan pun terus berganti, telepon yang dijanjikan menghubungi saya tidak kunjung datang. Sementara saya pun dengan segala kesibukan, tidak menghubunginya.

Lima bulan berjalan, saya teringat dengan teman saya yang sebelum nya sudah dipresentase, dan memang saya lagi presentase di daerahnya. Saya pun menjumpai kerumahnya.

Tau apa yang terjadi !, teman saya tersbut dengan tertatah-tahan menghampiri saya ke depan pintu, dan langsung bertanya masih bisakah saya masuk asuransi ?

Pembicaraan kami seperti ini :

Teman saya : Ehhhh, datang ya, apakah saya masih bisa masuk Allianz ?

Saya : Ada apa yang terjadi. Kok, begini ? (heran,….melihat keadaan yang lemah membungkuk)

Teman : Sebulan yang lalu Saya  kena Serangan Jantung !

Saya : Terus

Teman : Saya sudah Operasi Pasang Ring. Masih Bisakah Anda bantu aku Masuk Allianz ?

Saya : Bagaimana saya bisa bantu kamu dengan kondisi seperti ini ?, dulu sudah saya bilang hanya orang Sehat yang bisa berasuransi.

Teman : Tolong lah, kamu kan sudah lama kerja disana, masa tidak mau bantu saya ?

Saya : Yang tidak mau membantu itu bukan saya. Anda sendirinya dan mungkin istri anda yang tidak mau bantu. Maka selama ini tidak hubungi saya kan ?, lagi pun yang menentukan seseorang diterima atau tidak diterima masuk Allianz itu bukan saya sebagai Agen. Sepenuhnya tergantung Allianz.

Teman : Tolonglah,…. karena katanya ada kemungkinan nanti saya akan Operasi Yang lebih Besar lagi By Passs.

Saya : Urusan saya hanya mengatakan kondisi kesehatan Calon Nasabah secara jujur dan benar dan  memberitahukan keadaan kesehatan Calon Nasabah  ke Allianz, selanjutnya Allianz yang memutuskan.

Tapi dalam Kondisi seperti ini, kita usulkan pun, dipastikan Allianz akan menolaknya. Nanti anda kecewa, Sakit hati. Tolong jangan salah paham dengan saya ya !. Karena saat ini Saya sudah terlambat membantu anda. Karena Anda sudah Kehilangan Kesempatan.

Demikian lah pembicaraan kami akhiri.

Pengalaman seperti ini terkadang membuat kami sebagai Agen Asuransi memiliki perasaan yang campur aduk, karena sering terjadi kepada keluarga  sendiri, teman sendiri, tetangga sendiri.

Perasaaan kesallll,  gemasss, cemassss, marahhhh semua campur aduk kepada diri kami sendiri. Kami sering merasa tidak mampu membuat mereka yakin, dan akhirnya kehilangan kesempatan.  Karena sesungguhnya menurut kami, belanja mereka setiap bulannya terhadap hal-hal yang menurut  kurang bermanfaat melebihi belanja untuk membeli Polis Asuransi.

Jika anda sebagai seorang Agen Asuransi,  dan hal seperti ini terjadi kepada keluarga anda sendiri, teman sendiri, tetangga sendiri apakah anda tidak memiliki perasaan yang sama  kesallll,  gemasss, cemassss, marahhhh  campur aduk

 Pemi Yang Dibayar Perbulan lebih besar dari Rp.3.000.000/bulan menjadi Rp.3.500.000,- gara-gara menunda 2 Minggu.Pada suatu ketika, saya juga pernah Prospek seorang ibu yang sudah Usia 64 Tahun, Ingin meninggalkan warisan kepada anak-anaknya senilai Rp. 500.000.000,-

 

Banyak Keadaan yang kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *